PENERAPAN HOMESCHOOLING DI SEKOLAH
A. Pendahuluan
Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, Ki Hajar Dewantara, KH Agus Salim, dan Buya Hamka adalah tokoh-tokoh yang relatif terkenal oleh banyak orang. Namun, siapa yang sangka orang-orang tersebut tidak mengenyam pendidikan formal dengan baik. Benyamin Franklin hanya dua tahun sekolah, Thomas Alfa Edison bahkan hanya tiga bulan. Kondisi serupa juga dialami oleh tokoh-tokoh Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara, KH Agus Salim, dan Buya Hamka. Meskipun demikian, siapa yang menyangkal bahwa mereka adalah orang-orang hebat yang dilahirkan di planet bumi ini. Lalu dari mana mereka memperoleh kehebatan masing-masing?
Homeschooling, mungkin tidak begitu populer di kalangan masyarakat umum. Namun, istilah ini sudah cukup populer dan bahkan menjadi trend di kalangan orang-orang yang sangat peduli dengan pendidikan berkualitas bagi generasi mudanya. Seto Mulyadi, seorang ahli pendidikan anak ternyata menerapkan homeschooling untuk ketiga putrinya. Nia Ramadhani, seorang bintang sinetron juga menerapkan hal serupa untuk anaknya. Homeschooling juga banyak diterapkan oleh kalangan selebritis yang lain, seperti Dominique yang seorang model dalam mendidik anaknya.
Berbagai kekecewaan terhadap institusi sekolah merupakan alasan utama seseorang memilih homeschooling untuk anak-anaknya (Simbolon, 2008), selain alasan agama (Sumardiono, 2007). Buruknya lingkungan sekolah menjadi alasan yang sangat kuat bagi orang tua untuk tidak memasukkan anaknya di sekolah formal (Sumardiono, 2007). Alasan tersebut diperkuat dengan makin meningkatnya pengangguran akhir-akhir ini, yang itu menandakan bahwa sekolah gagal mencetak manusia-manusia produktif. Sekolah hanya lebih mampu memberi tugas-tugas kepada siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang mengawang-awang, yang siswa tidak mampu menterjemahkan pemahaman terhadap soal tersebut di kehidupannya. Akibatnya siswa kurang kreatif dengan waktu yang habis hanya untuk memikirkan pelajaran-pelajaran yang ia tidak ketahui mau diapakan.
Pendidikan agama yang memang tidak mendapat jatah yang cukup dalam sistem pendidikan di sekolah semakin memperkuat alasan para orang tua untuk melaksanakan sendiri pendidikan untuk anak-anaknya. Sebagai bagian dari bangsa timur, masyarakat Indonesia tentunya sangat memperhatikan pendidikan agama bagi anak-anaknya sebagai dasar pembentukan moral yang merupakan ciri khas budaya bangsa timur.
Meskipun alasan-alasan tersebut mengandung kebenaran, namun tidaklah seratus persen benar tentang penggambaran kondisi sesungguhnya tentang sekolah. Pada beberapa kasus memang terdapat kejadian-kejadian demikian, namun ada pula kasus yang mendukung bahwa sekolah telah mampu mencetak orang-orang besar dan sukses. Untuk yang terakhir ini, tidak sedikit jumlahnya.
Sebagai sebuah sistem yang dibuat, sekolah memang perlu perbaikan secara simultan sesuai dengan perkembangan kebutuhan terhadap institusi ini. Berbagai sistem baru telah banyak bermunculan untuk menyempurnakan atau bahkan sampai untuk mengganti sistem sekolah, salah satunya adalah homeschooling yang akan penulis bahas dalam makalah ini. Fokus pembahasan makalah ini berada pada bagaimana memadukan sistem sekolah konvensional dengan sistem homeschooling.
B. Homeschooling
1. Pengertian Homeschooling
Tidak ada pengertian secara eksplisit tentang homeschooling. Berbagai istilah sering disamakan dengan istilah homeschooling, antara lain home-education, dan home-based learning. Dalam bahasa Indonesia, istilah “sekolah rumah”, dan “sekolah mandiri” sering menjadi terjemahan dari kata homeschooling (Sumardiono, 2007).
Salah satu pengertian umum dari homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anak-anak tersebut dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya (Sumardiono, 2007). Pada homeschooling orang tua tidak menyerahkan begitu saja tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada guru dan sistem sekolah, orang tua homeschooling bertanggung jawab secara aktif atas proses pendidikan anaknya.
Yang dimaksudkan dengan bertanggung jawab secara aktif di sini adalah keterlibatan penuh orang tua pada proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dalam hal penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai yang ingin dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan yang hendak diraih, kurikulum dan materi pembelajaran hingga metode belajar serta praktik belajar kesehari-harian.
Pada keluarga homeschooling yang anaknya berusia pra-sekolah dan SD, sebagian besar proses belajar mengajar dipimpin oleh orang tua, sebab pada tingkat ini materi pembelajaran relatif, masih sederhana dan dapat diberikan langsung oleh orang tua. Namun, pada tingkat yang lebih tinggi, biasanya anak-anak homeschooling semakin mandiri dalam mencari dan memenuhi kebutuhan pendidikannya sendiri.
2. Model dan Pendekatan Homeschooling
Meskipun secara bahasa, homeschooling mengartikan bahwa pendidikan berpusat di rumah, pelaksanaan homeschooling sendiri tidak serta merta hanya menggunakan rumah sebagai wahana belajar. Penggunaan sarana-sarana lain di luar rumah tetap digunakan sebagai bahan pencapaian tujuan dari pendidikan homeschooling.
Model homeschooling sendiri sangat beragam. Hal ini disebabkan homeschooling yang bersifat uniqe, dimana setiap keluarga yang menerapkan homeschooling memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga berbeda pula dalam penerapan model homeschoolingnya (Sumardiono, 2007).
Pendekatan-pendekatan (approachs) dalam homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang tidak terstruktur (unschooling) sampai yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home). Sumardiono (2007) menyebutkan beberapa pendekatan dalam homeschooling, sebagai berikut:
a. School at-home approach adalah model pendidikan yang serupa dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini sering disebut textbook approach, traditional approach, atau school approach.
b. Unit studies approach adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pada pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, IPA, atau IPS), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented). Misalnya, dengan tema tentang rumah, anak-anak dapat belajar bentuk geometri (matematika), jenis-jenis rumah (sejarah), fungsi rumah (IPA), profesi pembangun rumah (IPS), dan sebagainya.
c. The living books approach adalah metode pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspos anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.
d. The classical approach adalah model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut trivium. Penekanan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image).
e. The waldorf approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool.
f. The Montessori approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
g. Unschooling approach berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.
h. The eclectic approach memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.
3. Antara Homeschooling dan Sekolah
Homeschooling lahir sebagaimana disebutkan sebelumnya, merupakan akibat dari kekecewaan masyarakat terhadap sistem sekolah yang saat ini menjadi model pendidikan yang paling dikenal oleh masyarakat umum. Kehidupan peserta didik yang tidak hanya berada di ruang sekolah, namun juga di keluarga, pergaulan, dan lingkungan menjadikan sekolah tidak mampu meng-cover seluruh kehidupan peserta didik sehingga tujuan integral dari pendidikan – sebagaimana tercantum dalam Sistem Pendidikan Nasional – tidak tercapai.
Menurut Sistem Pendidikan Nasional, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Sumardiono, 2007).
Jadi, sekolah adalah model pendidikan mainstream (mayoritas), tetapi bukanlah satu-satunya cara bagi seorang anak untuk memperoleh pendidikannya. Homeschooling sendiri merupakan salah satu alternatif dari sistem pendidikan bagi anak-anak.
Sebagai suatu model pendidikan homeschooling dan sekolah memiliki persamaan, yaitu antara lain sama-sama bertujuan untuk mengantarkan anak-anak pada pencapaian terbaiknya. Homeschooling dan sekolah sama-sama merupakan sarana untuk mengantarkan anak-anak pada tujuan pendidikan (Sumardiono.com) .
Selain persamaan, homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan yaitu:
a. Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak didelegasikan orang tua kepada guru dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan orang tua.
b. Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara sistem pada homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
c. Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam untuk seluruh siswa. Pada homeschooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang tua.
d. Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan penentuan kurikulum dan materi ajar. Pengelolaan pada homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga homeschooling. Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan oleh orang tua (Simbolon dalam wordpress.com).
4. Kelemahan dan Kelebihan Homeschooling
Berdasarkan pada persamaan dan perbedaan homeschooling dan sekolah di atas, maka dapat diketahui kelebihan dan kelebihan dari homeschooling. Beberapa kelebihan homeschooling dibandingkan dengan sekolah antara lain:
a. Adaptable, artinya sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga
b. Mandiri artinya lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan di sekolah umum
c. Potensi yang maksimal, dapat memaksimalkan potensi anak, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan sekolah
d. Siap terjun pada dunia nyata, output sekolah rumah lebih siap terjun pada dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya;
e. Terlindung dari pergaulan menyimpang. Ada kesesuaian pertumbuhan anak dengan dengan keluarga. Relatif terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan sebagainya);
f. Ekonomis, biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga (Simbolon dalam wordpress.com).
Adapun beberapa kekurangan yang dimiliki oleh homeschooling dibandingkan dengan sekolah antara lain:
a. Membutuhkan komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua
b. Memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak
c. Keterampilan dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya relatif rendah
d. Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi dan kepemimpinan
e. Proteksi berlebihan dari orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang kompleks yang tidak terprediksi (Simbolon dalam wordpress.com).
C. Penerapan Homeschooling di Sekolah
Mengingat bahwa berbagai alternatif model pendidikan diciptakan sebagai bentuk kekecewaan terhadap sistem pendidikan sekolah yang memiliki banyak kelemahan, dan homeschooling merupakan salah satu dari berbagai alternatif tersebut juga memiliki kelemahan juga, maka kelemahan-kelemahan tersebut dapat diminimalisir dengan mencoba untuk mengkombinasikan model alternatif homeschooling dengan sistem pendidikan. Pengkombinasian tersebut tidaklah mustahil dilakukan mengingat bahwa kedua sistem tersebut memiliki kesamaan yaitu sama-sama bertujuan pencapaian terbaik bagi anak-anak.
Di era dimana setiap orang tua terpacu untuk mengejar kesuksesan berkarir secara profesional yang kemudian hanya menyisakan waktu yang minim untuk anak-anaknya, menjadikan homeschooling menjadi akan sangat sulit diterapkan. Namun, dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, model homeschooling perlu cara lain untuk diterapkan. Sebagai sistem pendidikan yang telah dikenal luas, sangat memungkinkan sekolah menggunakan model homeschooling. Dengan demikian, kelemahan dan kelebihan kedua sistem ini dapat saling menutupi.
Pengkombinasian sistem sekolah dengan homeschooling dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan-pendekatan homeschooling pada sistem sekolah. Pendekatan-pendekatan homeschooling yang dapat diterapkan pada sistem sekolah untuk mengkombinasikan sekolah dan homeschooling antara lain:
1. Unit Studies Approach
Unit studies approach merupakan pendekatan homeschooling dengan mengangkat satu tema untuk semua mata pelajaran. Sebagaimana telah dicontohkan sebelumnya, tema rumah dijadikan bahan pengajaran bagi siswa. Dari tema rumah tersebut dapat dijadikan bahan pelajaran matematika (geometri), sejarah (jenis-jenis rumah), sains (fungsi rumah), IPS (profesi pembuat rumah), dan sebagainya.
Tema-tema yang diangkat dalam pendekatan ini hendaknya merupakan tema-tema yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, maka siswa akan lebih mudah memahami tema dan mata pelajaran yang mengiringnya. Untuk tema-tema yang siswa tidak terlalu dekat dengannya, namun memungkinkan untuk diberikan, pendekatan ini dapat dilakukan dengan mengkombinasikan dengan pendekatan the living books approach. Misalnya, tema pesawat, maka siswa dapat di ajak langsung ke tempat pembuatan pesawat atau ke bandar udara.
Pendekatan ini sangat menuntut kreatifitas dari seorang guru. Selain itu, komunikasi secara intensif perlu dilakukan antar guru tiap mata pelajaran. Hal ini perlu dilakukan agar terjadi ketersambungan antara tema yang akan diangkat dengan bahan ajar guru. Pendekatan ini juga akan memacu guru untuk selalu belajar dan belajar untuk meningkatkan kualitas pengajarannya.
2. The Living Books Approach
The living books approach merupakan pendekatan homeschooling dengan metode pendidikannya melalui pengalaman dunia nyata. Pendekatan ini dilakukan dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, berhitung), serta mengekspos anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pendekatan ini memberikan pengalaman praktis kepada siswa.
Sebagian sekolah telah menerapkan pendekatan ini. Bahkan, pada kurikulum terbaru (KTSP) ada penilaian pada sisi praktek siswa. Meskipun demikian, yang perlu diperhatikan bahwa seluruh bidang kehidupan merupakan laboratorium pendidikan bagi siswa. Oleh karena itu, nilai praktek kepada siswa sebaiknya tidak diberikan atas praktek yang dilakukan di laboratorium semata. Pengalaman praktis secara langsung perlu diberikan kepada siswa.
Program seperti “market day” yang banyak dilakukan di beberapa sekolah misalnya, sangat positif dalam pengembangan pendekatan ini. Dengan program seperti ini, siswa dapat dikenalkan secara langsung tentang proses pasar sebagai bagian dari mata pelajaran IPS, sekaligus sarana penanaman good habit berupa kemandirian dan jiwa wirausaha bagi siswa.
Selain kedua pendekatan tersebut, penerapan homeschooling di sekolah juga dapat dilakukan dengan pelibatan secara aktif dalam proses belajar mengajar anak. Kerja sama secara aktif antara pihak sekolah dan orang tua siswa dalam hal ini perlu diintensifkan. Kerja sama tersebut dapat berupa tukar informasi antara sekolah dan orang tua berkaitan tentang kondisi anak. Sangat dimungkinkan bahwa ada informasi-informasi tertentu tentang diri siswa yang tidak diketahui oleh sekolah namun diketahui oleh orang tua, demikian pula sebaliknya ada informasi tertentu yang diketahui sekolah namun tidak diketahui orang tua. Informasi-informasi tersebutlah yang kemudian perlu saling diklarifikasikan.
Home visit merupakan salah satu cara yang memungkinkan untuk dilakukan oleh sekolah sebagai sarana pertukaran informasi-informasi tersebut, disamping cara-cara yang lain. Cara-cara lain tersebut haruslah kemudian dapat menjamin kerterlibatan secara aktif orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Pelibatan tersebut penting, sebab secara umum orang tua menjadi orang yang paling banyak berinteraksi dengan anak, sehingga lebih banyak mengetahui kondisi anak-anaknya. Oleh karena itu juga, orang tua lebih mengetahui kebutuhan-kebutuhan anaknya.
D. Penutup
Kekurangan-kekurangan dari sebuah sistem yang dibuat oleh manusia, bukan berarti bahwa sistem tersebut tidak layak digunakan. Sebagaimana penemuan-penemuan dalam dunia ilmu pengetahuan, setiap sistem yang dibuat oleh manusia tidaklah serta merta menjadi sistem yang sempurna. Sebuah sistem yang ditemukan akan mengalami berbagai macam revisi dalam pelaksanaannya, sampai pada bentuk yang relatif sempurna, yang nantinya sistem tersebut biasanya akan dipandang tidak sempurna lagi jika ditemukan sistem yang dianggap lebih sempurna.
Meskipun banyak kekurangan dan banyak pihak yang merasa kecewa dengan pendidikan sistem sekolah yang ada saat ini, bukan berarti bahwa sekolah tidak ada kebaikannya sama sekali. Oleh karena itu, tidak layak sama sekali untuk menyingkirkan sistem sekolah dari sistem pendidikan anak-anak. Kekurangan-kekurangan yang ada seharusnya dilengkapi dengan inovasi-inovasi sistem terbaru.
Dewasa ini, telah banyak berbagai macam model atau sistem pendidikan untuk anak ditemukan dan dilakukan, termasuk di dalamnya adalah model homeschooling. Dan sebagaimana telah penulis ungkapkan di atas, model-model pendidikan yang telah ditemukan dan dilakukan tersebut tidaklah kemudian begitu saja dijadikan pengganti dari sistem sekolah yang ada. Sebab sistem-sistem tersebut tidak tertutup kemungkinan memiliki kelemahan-kelemahan yang justru dimiliki oleh sistem sekolah.
Homeschooling sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan bila dibandingkan dengan sistem sekolah. Keduanya juga memiliki persamaan dan perbedaan. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, baik homeschooling maupun sekolah sama-sama bertujuan untuk mencapai maksimalisasi potensi anak untuk perkembangannya. Keduanya memiliki perbedaan sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya dari tulisan ini.
Kekurangan yang dimiliki oleh homeschooling dapat ditutupi oleh kelebihan dari sekolah, demikian pula sebaliknya kekurangan sekolah dapat ditutupi oleh homeschooling. Penyatuan model ini tentunya diharapkan dapat semakin meningkatkan mutu pendidikan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia demi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Bahan Bacaan:
Sumardiono. 2007. Homeschooling, Lompatan Cara Belajar. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
_______. 2008. Homeschooling (online). (www.sumardiono.com, diakses 11 Juli 2008).
Simbolon, P. 2007. Homeschooling: Sebuah Pendidikan Alternatif (online). (www.wordpress.com, diakses 20 Juni 2008).
0 komentar:
Posting Komentar